Uncategorized

Monumen dan Akal Sehat

Tabiat kekuasaan memang cenderung hegemonik dan alat paling efektif untuk memperluas hegemoni adalah pengetahuan. Hegemoni adalah operasi penaklukan yang berlangsung pada wilayah gagasan atau ide, lazimnya diselenggarakan oleh mereka yang memiliki kuasa atas mereka yang tak memiliki kuasa. Operasi penjinakan gagasan warga oleh kekuasaan ini dapat memilih berbagai bentuk, bentuk paling purba adalah bangunan-bangunan raksasa yang monumental atau saat ini sering disebut monumen.

Sejarah kemudian mencatat ragam monumen bersejarah yang pernah dibangun oleh para penguasa, memang monumen-monumen tersebut tidak selalu dimaksudkan untuk menjinakkan gagasan kritis warga, sebut saja koloseum di Yunani, Taj Mahal di Agra India,Pyramid di Mesir hingga Prambanan dan Borobudur di Indonesia namun ragam monumen ini kemudian menjadi potret abadi kedigdayaan gagasan para penguasa atas warganya.

Kini, ratusan tahun setelah era itu, para penguasa (nasional dan lokal) tetap memiliki tabiat hegemonik. Bahkan tidak tanggung-tanggung monumen hegemoni tersebut secara vulgar dilabeli dengan nama-nama mereka sendiri, sayangnya monumen-monumen tersebut miskin ‘nilai’, bahkan beberapa diantaranya tidak selesai.

Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh, Sulawesi Tenggara sebuah wilayah dengan jumlah penduduk 2,5 juta jiwa memiliki contoh beberapa monumen yang tidak kunjung usai dirampungkan, pada era Gubernur La ode Kaimoeddin ada sebuah miniatur keragaman sosial yang dibangun dengan biaya mahal namun akhirnya mangkrak tak terurus,monumen itu bernama P2ID, pemimpin kemudian berganti namun hasrat tetap sama,Alimazi sebagai Gubernur baru juga membangun sebuah Monumen yang kemudian di label Tugu Persatuan, dan yang paling akhir sebuah Mesjid dibangun ditengah lautan dan di beri nama Mesjid Al-Alam diambil dari nama Gubernur penggagasnya Nur Alam.

Pada dua monumen pertama terlihat gamblang gagasan yang melatarinya, kedua monumen itu (P2ID dan Tugu Persatuan) hendak mengingatkan betapa keragaman sosial dan kebudayaan perlu dikelola dengan arif, namun atas sebuah mesjid yang tengah dihelat megah ditengah laut sampai saat ini saya tidak memperoleh argumentasi memadai atas latar seperti apa ia perlu dibuat.

Melacak gagasan yang melatari berdirinya sebuah monumen menjadi sangat penting, sebab umumnya selubung hegemonik akan berubah menjadi manfaat jika monumen tersebut dibangun atas argumentasi kokoh apalagi jika dibumbui dengan latar sosial faktual sebuah masyarakat, sebaliknya monumen akan berubah menjadi ingatan yang melukai jika ia berdiri tidak dengan argumentasi yang memadai, paling tidak diukur dari kebermanfaatannya bagi semesta.

Previous post

Limbah Medis Disulap Jadi Hiasan

Next post

Duduk di Taman UNHAS

Syamsul Anam

Syamsul Anam

Warga Muhammadiyah, Penikmat Buku dan Ayah dari 2 Orang Anak.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *