Uncategorized

Kampus, menciptakan intelektual atau mengejar gelar

Kampus sebagaimana yang kita sadari secara awam ialah istana bagi tempat mengabdinya para intelektual muda juga cendekiawan didalam segala lini bidang ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Menjadi ruang belajar yang mendorong pegiatnya menemukan jati diri dalam agenda kuliah, presentase, diskusi tanya jawab lalu keluar kelas. Benarkah ini yang kita harapkan ?
Hemat saya, rutinitas kuliah atau ruang akademik hari ini tidak mampu membentuk mahasiswa serta mahasiswinya-nya menjadi intelektual-intelektual muda harapan bangsa. Mengapa demikian ? Karena proses yang dilakukan dalam berkuliah hari ini tidak menyentuh ideologi sama sekali, kuliah yang terpenting adalah absensi kehadiran serta berlomba-lomba meraih IPK tertinggi dengan predikat cum laude 4.0, menjadikan kita benar-benar harus terfokus dengan tugas, diktat, laporan dan lain sebagainya.

Dan juga menjadikan mayoritas masyarakat kampus cenderung mengejar gelar semata tanpa melihat kualitas keilmuan secara holistik atau menyeluruh. Masalah yang timbul diluar mengenai apapun tidak mampu ditangani dan dipikirkan oleh mahasiswa jenis ini, padahal masyarakat luar sangat berharap banyak kepada kita semua mengenai apa yang kita jalani dan alami. Konsekuensi dari suasana yang jumud tersebut membuat kita melupakan tugas utama seorang mahasiswa (intelektual). Apa itu ?

Bagi Prof. Dr. Kuntowijoyo, intelektual bukanlah sosok yang berjalan diatas mega kebesarannya, pemikirannya melangit ataupun menghafal seluruh isi bacaan bukunya tetapi intelektual adalah pemikir yang tidak hilang jiwa sosialnya, yang memiliki kesadaran akan tanggung-jawab sosial untuk membela kaum mustad’afiin, peduli terhadap kaum tertindas, dan segala kebijakan ekonomi, politik, sosial, dan budaya yang merugikan negara juga masyarakat.
Kaum intelektual bukanlah kaum yang hanya hadir dalam dunia ide, gagasan dan wacana semata melainkan hadir dalam realitas yang nyata, gerakannya harus membumi dirasakan oleh masyarakat. Inilah yang disebut oleh Antonio Gramsci sebagai intelektual organik, yaitu intelektual yang mampu menyelami realitas nyata masyarakat.

Jika tidak ditemukan diruang kuliah, lalu dimana mahasiswa akan meraih predikat intelektual itu ? Salah satunya ialah dengan jalan berorganisasi. Organisasi jika saya uraikan pengertiannya pasti menuai perdebatan yang ruwet, dikarenakan latar belakang warna, prinsip dan tujuan dari organisasi itu yang berbeda-beda.
Tetapi satu prinsip yang terpatri pada tiap organisasi ialah mencapai tujuan organisasi dalam bingkai keragaman tiap-tiap dari anggota organisasi tersebut. Hal ini menjadikan kita mampu memadukan gagasan dan ide masing-masing dalam setiap tindakan atau agenda bersama yang melibatkan orang banyak demi memberi pemahaman kepada orang banyak pula. Sehingga tercapailah proses dalam meraih intelektual itu.

Kembali saya bertanya, apakah hanya sekedar berorganisasi ? Saya yakin dalam mencari jati diri sebagai seorang intelektual juga perlu mengisi diri dengan kegiatan yang memang betul-betul menciptakan seorang intelektual sejati, yakni yang seimbang antara humanitas dan nalar. Jalannya adalah membaca lalu menulis sebagai proses merealisasikan nilai-nilai intelektual yang bertumpuk diotak menjadi sebuah gagasan yang mampu dihimpun oleh setiap pembacanya.

Inilah seharusnya nilai-nilai ataupun bentuk-bentuk yang mesti dikembangkan diruang kuliah dari tenaga pendidik kepada yang di bimbing. Karena proses kuliah atau budaya kampus sekali lagi bukanlah soal siapa yang paling cepat meraih gelar sarjananya dan siapa yang tertinggi nilai IPK-nya untuk menjadi sebuah kebanggaan pada acara ceremonial formal wisuda tahunan. Tetapi adalah yang paling banyak memberi dan terlibat dalam membangun masyarakat dan bangsa. Karena tugas intelektual adalah tugas kita semua, bukan hanya tugas para Professor, Doktor, ulama dll.

Previous post

Perkembangan IPTEK dan Masa Depan Islam

Next post

Oleh-oleh dari Wakatobi

Ivansyah Muhammad

Ivansyah Muhammad

Mahasiswa ekonomi syariah.
Organisatoris yang cinta dunia literasi

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *