Uncategorized

Jurus Ampuh Menulis (esai) Ala Gus Muh

sumber: standbuku.com

Menulis adalah perkara mudah. Ya, tinggal menulis saja. Tapi tahukah anda kisanak? Tidak semua yang ditulis itu bernyawa alias punya daya greget untuk dibaca. Seperti kue yang rasanya bercampur manis asam, asin, yang enak ditelan. Menulis juga begitu. Bagaimana tulisan dari awal-bahkan dari judul-saja orang tertarik untuk mengulik lebih jauh sebuah isi tulisan. Dan itu yang dirasakan si-Penulis artikel ini. Tulisan-tulisannya yang ilmiah bahkan yang tak ilmiah pun tak enak dibaca, bahkan si penulis pun. Untuk untuk itu Dia berguru pada banyak orang untuk skill menulis. Salah satunya Muhiddin M. Dahlan atau kerap disapa Gus Muh.

Bukan apa-apa, Gus Muh tulisannya enak dibaca walau pemikirannya agak sedikit liar atau bahasa kerennya lebih kiri-kiri-an.

Banyak orang yang hebat mengutarakan ide atau gagasan dalam bentuk lisan, namun ketika diminta dalam bentuk tulisan disitulah persoalan dimulai, ide brilian di otak tidak linear dalam bentuk tulisan. Yang abstrak tidak bisa dibentuk dalam wujud konkrit tulisan. Tapi Gus Muh beda, antara ucapan dan tulisan seperti bernyawa.

Menemukan formula membaca karya-karya besar dan menuangkan ide dengan menulis dengan gaya kita. Itulah yang disarankan oleh Muhiddin M Dahlan dalam bukunya “Inilah Esai, Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor” yang dicetak terbatas itu berisi tips bagaimana menulis yang baik mulai dari memilih gaya, membuat judul, membuka paragraph dan mengunci tulisan.

Gus Muh fokus pada tips menulis essai atau menulis nonfiksi. Tapi apalah arti sebuah nama kata Shakespeare.  Esai atau bentuk tulisan lain toh bisa mengikuti formula ini. Setidaknya mengikuti saran dari penulis novel Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur tersebut.

Gaya Ia menulis begitu sistematis, terstruktur dan kaya data (sejarah). Memulai dari penelusuran esai-esai hebat dari Tirto Adhi Soerjo, Rosihan Anwar, Sindhunata, Sukarno, Hatta hingga Abdurahman Wahid. Habis Dia baca.

Gus Muh memulai tipsnya dengan membagi beberapa babakan. Pertama, Mukadimah, kedua, Tema dan  Topik, dan ketiga cara Mendekati Sumber. Singkat bukan? Tunggu dulu, buku ini tidak tipis, standar untuk ukuran buku, tebalnya lebih kurang 195 halaman. Mau lanjutan dari buku ini? Kita lewatkan dulu pariwara selama seminggu berikut. Tunggu minggu depan.

Selamat menyambut tahun politik.

Previous post

Menggugat Sisi Etis Pebisnis Tambang (Ironi dari Negeri Surganya Para Penambang)

Next post

Mengusir Bosan di Era Disrupsi

Patta Hindi Asis

Patta Hindi Asis

Juru ajar, Penyuka Sepakbola bola

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *